Petani di Desa Lara Manfaatkan Sumur Bor Untuk Mengairi Persawahan : Hasilkan Gabah 7 Hingga 9 Ton Per Hektar
LUTRA, Esposmedia.com – Petani di Dusun Sitindukang Desa Lara mengandalkan sistem pompanisasi untuk mengairi puluhan hektare areal persawahan.
Hingga kini, petani di desa tersebut belum memiliki jaringan irigasi permanen, sehingga kebutuhan air sawah hanya dapat dipenuhi melalui pompa air yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat.
“Kami disini pak bertani mengairi sawah kami dengan bantuan sumur bor, kami juga andalkan tadah hujan, karena disini tidak ada pengairan,”ujar Pak Sattu salah seorang petani, kepada wartawan. Saat kegiatan panen perdana, Senin, (24/8/2026).
Sattu mengatakan bahwa kondisi ini sudah berlangsung sejak lama, para petani di Desa Lara Khususnya di Dusun Sitindukang menggunakan pompanisasi.
Menurutnya, pompanisasi menjadi satu satunya cara bagi para petani untuk mengairi sawah.
“kalau kita mau harap tadah hujan, itu tidak mungkin setiap saat. Makanya jalan keluarnya kami pakai sumur bor. Itu hampir semua petani disini pakai, kalau tidak pakai sumur bor, kita tidak bisa dapat air, karena tidak ada irigasi pengairan”ungkapnya.
Meski demikian, penggunaan pompanisasi untuk mengairi sawah tidak semerta merta mudah dilakukan para petani. Sebab untuk mengoperasikan pompa petani harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, selama masa pemeliharaan tanaman.
“Kalau pake pompa juga kita keluarkan biaya. Tapi kita dibantu sama pemerintah, ada pompa juga dikasi,”terang Sattu.
HASILKAN 7 TON PER HEKTAR, PERPUTARAN EKONOMI CAPAI RP 58 MUSIM PANEN
Namun kendati, mengalami keterbatasan soal irigasi dan hanya menggunakan pompanisasi, hasil pertanian padi di Desa Lara terbilang berhasil dengan signifikan selama musim panen.
Selain karena ditunjang oleh dukungan pemerintah Daerah soal ketersediaan pompa, para petani juga terus mendapat pendampingan dari dinas pertanian.
Penyuluh pertanian Masran SP mengungkapkan bahwa produksi padi di Desa Lara pada musim panen kali ini mampu menghasilkan minimal 7 hingga 10 ton per hektar.
Sementara itu luas areal persawahan di Desa Lara berjumlah 840 hektar, dalam satu musim panen mampu menghasilkan perputaran uang sebesar Rp 58 Miliar.
“Di Desa Lara untuk keseluruhan ini ada sekitar kurang lebih 840 hektar itu belum termasuk program percetakan sawah rakyat yang sudah berjalan. Kalau setiap musim panen pertanian padi di Desa Lara ini perputaran ekonomi bisa mencapai Rp 58 Miliar,”kata Masran.
Masran mengaku bersyukur hasil panen padi para petani saat ini tetap normal ditengah musim kemarau yang melanda wilayah Luwu Utara.
Ia mengungkapkan, tingginya hasil pertanian di Desa Lara tidak terlepas dari upaya pemerintah Daerah yang didukung oleh kementrian pertanian, dalam memberikan bantuan kepada para petani, khususnya alsintan dan pompa.
“Meskipun sebelumnya kami target mencapai minimal 8 ton per hektar. Tapi ditengah kondisi cuaca saat ini, kita bersyukur hasil panen tetap stabil,”ujar Masran.
Selain itu untuk mendukung hasil pertanian yang lebih maksimal, kedepan pemerintah melalui kementrian akan mendorong penggunaan drone dalam pengelolaan pertanian.
Kata masran, penggunaan drone memiliki banyak manfaat bagi para petani, di antaranya drone dapat melakukan penyemprotan lahan dan pengendalian hama dengan lebih cepat dan tepat dibandingkan dengan cara manual. Penggunaan drone dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam mengelola lahan mereka.
“Kedepan nanti petani akan dilatih menggunakan drone, yang digunakan untuk membantu petani melakukan penyemprotan hama. Dengan penyemprotan dan pengendalian hama yang optimal, diharapkan hasil panen petani dapat meningkat,”jelas Masran.
Penggunaan drone di bidang pertanian diharapkan dapat membantu para petani dalam meningkatkan produksi pertanian, meningkatkan kesejahteraan mereka, dan mewujudkan smart farming di Kabupaten Luwu Utara.
(Hamsul)






