Bupati Luwu Utara: Literasi Mampu Dongkrak Kapasitas Warga

1770712615_0cdd2f2cca73354c37bc

Jakarta – Humas Perpusnas. Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim menegaskan komitmennya dalam meningkatkan literasi. Hal itu dikarenakan, dia meyakini literasi mampu meningkatkan kualitas warga Kabupaten Luwu Utara menjadi lebih baik.

Tak ayal, Andi sangat memperjuangkan penyelesaian pembangunan Gedung Layanan Perpustakaan Kabupaten Luwu Utara yang mangkrak sekitar lima tahun. Isu ini pula yang melatarbelakangi kedatangannya ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Selasa (10/2/2026).

“Koordinasi ini kami harap dapat mendapatkan solusi terbaik untuk menghadirkan perpustakaan yang representatif dan menarik untuk masyarakat,” ungkapnya.

Menyanggapi hal tersebut, Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso memaparkan bahwa Perpusnas telah mengalokasikan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Tahun 2019 sebesar 10 miliar untuk Luwu Utara.

Akan tetapi, terkait ketidaktuntasan pembangunan, dia menekankan bahwa ada klausul yang menerangkan penyelesaian pembangunan menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah dan diselesaikan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Joko juga menyarankan agar Pemda Luwu Utara berkoordinasi lebih lanjut dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU).

“Kami melihat pandangan bupati yang visioner untuk memajukan masyarakat Luwu Utara yang berdampak luar biasa. Sumber Daya Alam (SDA) akan memberikan dampak jika didukung dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu upaya meningkatkan kualitas SDM adalah kecakapan literasi,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Joko juga menyampaikan bahwa saat ini Perpusnas hanya memiliki alokasi anggaran DAK Non Fisik. Dana ini bertujuan membantu pembiayaan kegiatan yang merupakan tanggung jawab daerah dalam memperkuat budaya literasi dan mewujudkan masyarakat yang berpengetahuan, kreatif, inovatif, serta berkarakter.

Selain itu, Joko juga menerangkan Perpusnas memiliki program bantuan 1.000 bahan bacaan berkualitas untuk memperkuat literasi perpustakaan desa, Taman Baca Masyarakat (TBM), perpustakaan lapas hingga puskesmas. Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik literasi yang melibatkan mahasiswa, serta program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).

“TPBIS merupakan pemberdayaan ekonomi yang menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat untuk meningkatkan praktik praktis dan kesejahteraan,” tutupnya

You cannot copy content of this page